- Kenali Dulu Tanda Tanaman Diserang Siput dan Bekicot
- Periksa Kebun Saat Siput Mulai Aktif
- Ambil Hama yang Ditemukan Secara Manual
- Kurangi Tempat Persembunyian di Sekitar Tanaman
- Atur Penyiraman agar Kebun Tidak Terlalu Lembap
- Beri Jarak Antar Tanaman
- Manfaatkan Perangkap di Area yang Sering Diserang
- Gunakan Penghalang pada Tanaman yang Rentan
- Pertahankan Predator Alami di Kebun
- Pilih Tanaman yang Relatif Kurang Disukai
- Pertimbangkan Pestisida Nabati dengan Hati-Hati
- Moluskisida Bisa Dipertimbangkan Jika Serangan Berat
- Gabungkan Beberapa Cara agar Pengendalian Lebih Konsisten
- Perbedaan Siput, Bekicot, dan Slug
- FAQ
Brilio.net - Daun tanaman yang tiba-tiba berlubang atau bagian tepinya tampak terkikis bisa menjadi tanda adanya serangan siput dan bekicot. Hama dari kelompok gastropoda ini kerap sulit ditemukan karena lebih aktif ketika malam atau saat lingkungan dalam keadaan sejuk dan basah.
Jejak lendir yang mengilap pada tanah, pot, maupun permukaan daun dapat menjadi petunjuk keberadaannya. Jika kondisi kebun cukup lembap dan terdapat banyak tanaman muda dengan daun lunak, risiko serangan juga perlu diperhatikan.
Pengendalian tidak harus langsung menggunakan bahan kimia. Kondisi lingkungan kebun dapat lebih dulu diperbaiki, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan hama secara manual, perangkap, penghalang fisik, hingga pengendalian lain jika populasinya sudah sulit dikendalikan.
Kenali Dulu Tanda Tanaman Diserang Siput dan Bekicot
Kerusakan akibat siput dan bekicot biasanya terlihat berupa lubang dengan bentuk yang tidak beraturan pada daun. Pada serangan yang lebih berat, sebagian besar permukaan daun dapat terkikis.
Tanda lain yang cukup mudah dikenali adalah adanya lendir berwarna keperakan. Jejak tersebut dapat ditemukan pada daun, tanah, pot, batu, atau permukaan lain yang dilewati hama.
Karena siput dan bekicot lebih aktif pada kondisi gelap dan lembap, pemeriksaan pada siang hari belum tentu menemukan hama yang menyebabkan kerusakan.
Tanaman sayuran, bunga, tanaman hias, serta tanaman yang memiliki daun muda dapat menjadi sasaran. Karena itu, waktu pemeriksaan perlu disesuaikan dengan pola aktivitas hama.
Periksa Kebun Saat Siput Mulai Aktif
Pemeriksaan dapat dilakukan setelah matahari terbenam menggunakan senter. Fokuskan pengecekan pada bagian bawah daun, permukaan tanah, area di sekitar pot, serta tempat-tempat yang teduh.
Tumpukan daun, batu, papan, ranting, dan material lain yang lembap juga perlu diperiksa karena dapat menjadi tempat persembunyian pada siang hari.
Cara ini sekaligus membantu memastikan apakah lubang pada daun memang disebabkan siput atau bekicot, bukan hama pemakan daun lainnya.
Ambil Hama yang Ditemukan Secara Manual
Jika jumlah siput dan bekicot belum terlalu banyak, pengambilan langsung dapat menjadi pilihan sederhana. Hama yang ditemukan dapat dikumpulkan menggunakan sarung tangan dan wadah.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama pada malam atau pagi hari. Dengan begitu, jumlah hama yang berada di sekitar tanaman dapat ditekan sebelum kerusakan meluas.
Metode ini memang membutuhkan waktu karena perlu dilakukan berulang. Namun, pengendalian secara manual dapat menjadi langkah awal sebelum mempertimbangkan metode lain.
Kurangi Tempat Persembunyian di Sekitar Tanaman
Kebun yang terlalu rimbun dan penuh material basah menyediakan lebih banyak tempat berlindung bagi siput dan bekicot.
Gulma, daun mati, ranting, serta sisa tanaman yang menumpuk di sekitar tanaman sebaiknya dirapikan. Bukan berarti seluruh bahan organik harus disingkirkan dari kebun, tetapi hindari tumpukan yang terlalu padat dan basah tepat di dekat tanaman yang rentan.
Penataan seperti ini membuat area kebun lebih mudah diperiksa sekaligus mengurangi lokasi persembunyian hama pada siang hari.
Atur Penyiraman agar Kebun Tidak Terlalu Lembap
Kondisi basah merupakan salah satu lingkungan yang mendukung aktivitas siput dan bekicot. Karena itu, waktu dan cara penyiraman dapat ikut memengaruhi kondisi kebun.
Penyiraman pada pagi hari memberi kesempatan bagi permukaan tanah untuk mengering sebelum malam. Sebaliknya, penyiraman berlebihan dapat membuat lingkungan tetap basah lebih lama.
Pastikan pot dan wadah tanaman mempunyai drainase yang baik. Jika memungkinkan, air dapat diarahkan langsung ke media tanam menggunakan metode seperti irigasi tetes sehingga tidak terlalu banyak membasahi daun dan permukaan area kebun.
Beri Jarak Antar Tanaman
Tanaman yang terlalu rapat dapat membuat sirkulasi udara di sekitar daun dan permukaan tanah menjadi kurang baik. Kondisi tersebut juga dapat membuat area kebun lebih lama mempertahankan kelembapan.
Jarak tanam dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tanaman. Bagian yang terlalu rimbun juga dapat dipangkas agar udara lebih mudah bergerak.
Mulsa pun perlu diperhatikan. Lapisan yang terlalu tebal, basah, dan menempel pada pangkal tanaman dapat menjadi tempat berlindung siput dan bekicot.
Manfaatkan Perangkap di Area yang Sering Diserang
Perangkap sederhana dapat digunakan untuk mengetahui sekaligus mengumpulkan siput dan bekicot.
Salah satu caranya adalah menempatkan papan datar sedikit di atas permukaan tanah. Area di bawah papan dapat menjadi tempat berlindung yang teduh bagi hama.
Pagi harinya, bagian bawah papan dapat diperiksa dan hama yang berkumpul dikumpulkan. Bahan seperti kulit buah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung sementara.
Perangkap harus diperiksa secara rutin. Jika dibiarkan terlalu lama, hama yang terkumpul tetap berpotensi kembali menyebar ke area tanaman.
Gunakan Penghalang pada Tanaman yang Rentan
Tanaman tertentu dapat diberikan perlindungan tambahan menggunakan penghalang fisik. Salah satu bahan yang dikenal digunakan untuk menghambat siput dan slug adalah pita tembaga.
Pita dapat ditempatkan pada bagian tepi pot atau bedeng yang menjadi jalur masuk. Namun, pastikan tidak ada daun atau batang yang menjulur hingga melewati penghalang dan menjadi jalan alternatif bagi hama.
Bahan dengan permukaan kasar, seperti tanah diatom, juga dapat digunakan sebagai salah satu pilihan. Aplikasinya perlu diperhatikan karena kondisi basah akibat hujan atau penyiraman dapat mengurangi fungsi penghalangnya.
Jangan Menjadikan Kopi dan Cangkang Telur sebagai Andalan Utama
Bubuk kopi dan cangkang telur yang dihancurkan cukup sering digunakan dalam pengendalian siput dan bekicot secara rumahan.
Kedua bahan tersebut memang disebut dalam sejumlah panduan sebagai bahan yang dapat dicoba. Namun, efektivitasnya sebagai penghalang tidak sekuat metode yang sudah lebih jelas penerapannya.
Karena itu, penggunaan kopi atau cangkang telur sebaiknya tidak menggantikan pemeriksaan rutin, sanitasi kebun, pengaturan kelembapan, atau pengambilan hama secara langsung.
Penggunaan garam juga perlu diperhitungkan. Garam dapat menarik cairan dari tubuh gastropoda, tetapi residu garam yang berlebihan berisiko memengaruhi kondisi tanah. Menaburkannya secara sembarangan di sekitar tanaman bukan pilihan yang baik.
Pertahankan Predator Alami di Kebun
Siput dan bekicot merupakan bagian dari rantai makanan dan dapat menjadi sumber makanan bagi sejumlah hewan. Katak, kodok, burung, ular, dan beberapa jenis satwa lain diketahui dapat memangsa gastropoda.
Karena itu, pengendalian hama tidak selalu berarti menghilangkan seluruh organisme tersebut dari kebun. Keberadaan predator alami dapat ikut membantu menjaga jumlah hama.
Penggunaan bahan pengendali secara berlebihan justru perlu dihindari karena dapat berdampak pada organisme lain yang berada di lingkungan kebun.
Pilih Tanaman yang Relatif Kurang Disukai
Pemilihan jenis tanaman juga dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan kebun. Tanaman dengan aroma kuat, seperti rosemary, lavender, dan sage, disebut cenderung kurang menarik bagi siput dan slug dibandingkan tanaman berdaun lunak.
Tanaman yang memiliki daun lebih keras, berbulu, atau berduri juga umumnya lebih sulit dimakan dibandingkan daun yang lembut.
Namun, pilihan tanaman bukan berarti menjadi jaminan siput dan bekicot tidak akan datang. Strategi ini lebih tepat digunakan untuk mengurangi risiko kerusakan pada bagian tertentu dari kebun.
Pertimbangkan Pestisida Nabati dengan Hati-Hati
Jika pengendalian mekanis dan perubahan kondisi kebun belum cukup, bahan nabati dapat dipertimbangkan sebagai langkah tambahan.
Beberapa bahan yang pernah dibahas dalam pengendalian gastropoda antara lain bawang-bawangan, serai, lengkuas, sirsak, dan tanaman tertentu lainnya.
Meski berasal dari bahan alami, penggunaannya tetap perlu hati-hati. Larutan dengan konsentrasi tertentu tetap berpotensi menyebabkan kerusakan pada daun.
Sebelum digunakan ke seluruh tanaman, pengujian pada sebagian kecil bagian tanaman dapat dilakukan untuk melihat reaksinya.
Moluskisida Bisa Dipertimbangkan Jika Serangan Berat
Penggunaan moluskisida dapat menjadi pilihan ketika jumlah hama sudah tinggi dan cara nonkimia belum mampu mengendalikannya.
Produk yang digunakan perlu disesuaikan dengan petunjuk pada label, termasuk dosis dan metode aplikasi. Faktor keamanan bagi manusia, hewan peliharaan, serta organisme lain di sekitar kebun juga perlu diperhatikan.
Umpan berbahan metaldehida perlu digunakan dengan kewaspadaan karena bahan tersebut dapat berbahaya jika tertelan. Produk berbahan zat besi fosfat merupakan salah satu alternatif yang juga digunakan untuk pengendalian siput dan slug.
Menambah dosis di luar petunjuk tidak membuat penggunaan produk otomatis lebih baik. Justru penggunaan berlebihan dapat meningkatkan risiko terhadap tanaman dan lingkungan sekitar.
Gabungkan Beberapa Cara agar Pengendalian Lebih Konsisten
Mengandalkan satu metode saja belum tentu cukup, terutama jika populasi siput dan bekicot sudah tinggi.
Pengendalian dapat dimulai dengan membersihkan area persembunyian, memperbaiki drainase, dan mengubah waktu penyiraman menjadi pagi hari. Tanaman kemudian diperiksa secara berkala pada malam atau pagi untuk mengambil hama yang terlihat.
Tanaman yang paling sering rusak dapat diberi perlindungan tambahan berupa penghalang atau perangkap. Jika cara tersebut belum memadai, metode pengendalian lain dapat dipertimbangkan berdasarkan tingkat serangan.
Pendekatan bertahap seperti ini membantu mengurangi ketergantungan pada satu jenis metode sekaligus membuat kondisi kebun kurang mendukung perkembangan hama.
Perbedaan Siput, Bekicot, dan Slug
Siput dan bekicot termasuk kelompok moluska dari kelas Gastropoda. Dalam penggunaan sehari-hari, gastropoda yang memiliki cangkang sering disebut siput atau bekicot, sedangkan yang tidak bercangkang kerap disebut slug atau siput telanjang.
Beberapa spesies gastropoda dapat menjadi hama tanaman. Salah satunya adalah Achatina fulica, yang dikenal sebagai bekicot.
Tidak semua gastropoda yang ditemukan di kebun otomatis merupakan hama. Sebagian memiliki fungsi dalam ekosistem, termasuk membantu proses penguraian bahan organik dan menjadi sumber makanan bagi satwa lain.
Karena itu, identifikasi tetap penting sebelum melakukan pengendalian dalam skala besar.
FAQ
Recommended By Editor
- Traveling ke Jepang jangan lupa pakai BRI Kartu Kredit JCB Platinum, bertabur promo & benefit cashback
- Cara membuat pupuk kulit bawang untuk tanaman cabai, lengkap dengan aturan pakainya
- Jaga cashflow bulanan kini makin mudah dengan Program Cicilan BRI Kartu Kredit, bunga mulai 0%
- Cara menanam asparagus di rumah lengkap, mulai dari menyiapkan tanah hingga panen
- Ratusan ibu-ibu rayakan HUT RI di Taman Ahmad Yani Medan bareng Mahsuri, yuk intip keseruannya!
- 7 Limbah cair rumah tangga yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman, tak cuma air beras
- Jenis alpukat jumbo yang mudah dirawat di rumah, buahnya bisa capai 1 kg lebih
- Cara menanam anggur dalam pot agar cepat tumbuh dan siap dipanen

